Album SLB Mentari Kita

Sabtu, 14 Mei 2011

"PERSIAPAN MENULIS"

Bahwa persiapan menulis identik dengan istilah “prewriting skills”. Prewriting skills adalah segala bentuk kegiatan yang terlibat dalam belajar menulis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa segala kegiatan yang dapat mendukung kegiatan belajar menulis anak dapat dikatakan sebagai persiapan menulis.
Di dalam persiapan menulis termasuk di dalamnya berbagai keterampilan sensorimotor  yang  
berkontribusi terhadap kemampuan anak dalam memegang dan menggunakan pensil untuk berbagai aktifitas menulis, diantaranya: menggambar, menyalin, dan mewarnai.

1.      Hakekat persiapan menulis
Secara umum setiap individu memiliki tiga kategori aktivitas yang biasa dikerjakannya dalam kehidupan sehari-hari  yaitu: aktivitas bantu diri (self care), aktivitas bermain (leisure), dan aktivitas kerja (produktivitas). Bentuk aktivitas kerja anak di sekolah meliputi kegiatan akademik seperti membaca, menulis, menghitung, serta pemecahan masalah (Amundson & Well dalam Santoso 2005 :1).
Umumnya anak yang berumur 6 atau 7 tahun telah mampu menulis dengan pemberian pembelajaran menulis tradisional (Bargman & MeLaughlin dalam Santoso, 2005;1). Penguasaan keterampilan menulis pada usia dini akan memberi kesempatan pada anak untuk meningkatkan kemampuan menulis pada level yang lebih tinggi seperti mengarang tanpa harus memberikan pembelajaran mekanika dan teknik menulis (Martlew dalamSantoso, 2005:1).
Sebaliknya, bagi anak dengan kebutuhan khusus seperti halnya anak tunagrahita sangat memerlukan perhatian khusus untuk membelajarkan keterampilan menulis pada mereka. Mereka harus berjuang untuk belajar menulis dengan mencurahkan perhatian dan energi dalam mempelajari keterampilan dasar menulis seperti integrasi visualmotorik, persepsi bentuk huruf, dan memegang pensil yang benar.
Problem yang sering dihadapi anak berkebutuhan khusus yang telah duduk dibangku sekolah adalah anak sering ketinggalan atau mengalami kesulitan untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. Anak menolak untuk belajar menulis karena merasa sulit untuk membentuk huruf atau kesulitan menulis secara otomatis (Amundson & Weil dalam Santoso,2005:1).
Untuk itu kesiapan (readiness) merupakan istilah yang menjelaskan keterampilan dasar yang harus dicapai sebelum anak belajar keterampilan yangbaru (Slavin, Karweit, & Wasik dalam Santoso, 2005 : 2). Sovik dalam Santoso (2005:2) menyatakan bahwa kesiapan menulis (writing readiness) adalah kemampuan anak untuk mencapai keterampilan menulis dengan adekwat yang telah diberikan oleh seorang pengajar pada level yang sesuai dengan perkembangan anak.
Fakta yang terjadi adalah banyak orang tua yang mengajarkan keterampilan menulis sebelum mereka menguasai persyaratan yang harus dikuasai anak untuk belajar menulis. Bila anak dipaksa untuk belajar menulis sebelum menguasai kesiapan menulis yang dipersyaratkan maka anak akan terbiasa menulis dengan cara yang tidak benar. Bila hal ini terjadi terus menerus maka kesalahan tersebut biasanya sulit dikoreksi (Weil &Cunningham-Amundson dalam Santoso, 2005;2).
Menulis memerlukan keterampilan yang sangat kompleks seperti integrasi visual motorik, kognitif dan perceptual, serta sensitifitas kinesthetic dan taktil (Maeland dalam Santoso, 2005 : 1). Profesiensi menulis memerlukan maturasi dan integrasi keterampilan tersebut termasuk kemampuan merencanakan gerak (motoric planning), hubungan ruang dan jarak, serta elemen kekutan otot tangan untuk mengerjakan aktivitas menulis (Conhil &Case Smith, Maeland dalam Santoso, 2005 : 1).
Identifikasi komponen yang mendasari keterampilan menulis sangat diperlukan untuk mengetahui defisit yang dialami anak sehingga guru dapat menentukan teknik dan strategi pembelajaran menulis yang sesuai dengan problem yang dihadapi anak.

2.      Prinsip perkembangan motorik
Perkembangan kemampuan menulis anak pada dasarnya mengikuti prinsip-prinsip sesuai perkembangan motorik pada umumnya. Sehingga dalam memberikan pembelajaran menulis seharusnya menyesuaikan dengan tahap perkembangan motorik anak tersebut. Beberapa prinsip perkembangan motorik yang diambil dari (Klein, 1983; Gunadi, 2001) adalah sebagai berikut:
Prinsip 1 : “Cephalo-Caudal”
Sesuai dengan prinsip ini, bahwa perkembangan  kontrol dan koordinasi otot dengan arah dari kepala ke kaki (Hopskins & Smith, 1993). Sehingga motorik halus anak (fine motor) berkembang setelah terbentuknya stabilisasi shoulder (bahu). Dan stabilisasi bahu/shoulder terbentuk setelah anak mampu mengontrol kepala terlebih dahulu.
Prinsip 2: “Proksimal-Distal”
Kontrol gerakan pada sendi-sendi proksimal (dekat dengan garis tengah tubuh) lebih dulu dicapai daripada kontrol gerakan pada sendi bagian distal (jauh dari garis tengah tubuh). Yang termasuk sebagai sendi proksimal antara lain leher, bahu, dan tungkai atas, sedangkan yang termasuk sendi bagian distal antara lain pergelangan tangan, jari-jari tangan, ankle, dan jari-jari kaki. Perkembangan kontrol lengan dan tangan, serta bahu lebih dahulu tercapai daripada kontrol siku dan jari-jari (Klein, 1983).
Prinsip 3: “Medial-Lateral”
Perkembangan kemampuan menggenggam pada anak dalam posisi anatomi mengarah dari medial (ulnar) kearah lateral (radial) (Klein, 1983; Hopskins & Smith, 1993). Demikian juga perkembangan kontrol motorik kasar (gross motor) lebih dulu tercapai daripada perkembangan motorik halus (fine Motor)
Prinsip 4: Kestabilan
Bahwa anak harus mencapai kestabilan terlebih dahulu sebelum mobilitas dan kontrol gerakan distal (bagian yang menjauh dari tubuh) dicapai.
Prinsip 5: Whole-body
Anak harus belajar memisahkan satu gerakan dengan melibatkan otot yang besar menjadi satu gerakan yang melibatkan otot yang lebih spesifik dari bagian tubuh.
Prinsip 6: Atensi
Jika anak tidak beratensi secara baik (duduk tidak seimbang) maka tugas fine motor menjadi sulit diajarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar