Rabu, 20 Juli 2011

STRATEGI PEMBELAJARAN PADA ANAK DENGAN HAMBATAN PERKEMBANGAN BELAJAR

A. LATAR BELAKANG
Pertambahan jumlah kasus kelainan atau gangguan tumbuh kembang pada anak semakin hari semakin meningkat, hal ini sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang juga tinggi, sebagai konsekuensi dari negara yang masih berkembang. Adanya gangguan tumbuh kembang  pada anak tersebut otomatis membutuhkan konsekuensi tersendiri dalam penanganannya, sebagai contohmya adalah dalam hal penanganan pendidikan. Dikarenakan perbedaan kebutuhan tersebut maka anak-anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang ini biasa disebut dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), atau orang awam menyebutnya dengan anak cacat.


Berdasarkan  Data Pusdatin Depsos tahun 2008 bahwa jumlah Penyandang Cacat di Indonesia sudah mencapai 1.544.184 jiwa, sementara itu menurut catatan WHO, jumlah penyandang cacat di Indonesia mencapai sekitar 10 persen dari seluruh jumlah penduduk, meningkatnya jumlah penyandang cacat di Indonesia akibat adanya beberapa faktor diantaranya karena faktor bencana alam, perubahan kondisi kesehatan, perubahan gaya hidup, polusi,  kekurangan gizi  dsb.
Berdasarkan data yang bersumber dari Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan yang telah mengadakan ekspos data penyandang cacat klasifikasi ICF bekerjasama dengan PT. Surveyor Indonesia (Persero) yang dirilis pada tanggal 16 Februari 2009, menyebutkan bahwa : berdasarkan survey Data Penyandang Cacat yang diperoleh dari 9 Provinsi yaitu Provinsi Jambi, Bengkulu, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Jawa Barat, setelah sebelumnya pada tahun 2007 telah diadakan kegiatan serupa di 5 Provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI.Yogyakarta dan Jawa Timur.
Berdasarkan hasil pendataan/survey jumlah penyandang cacat pada 9 provinsi tersebut sebanyak 299.203 jiwa dan 10,5% (31.327 jiwa) merupakan penyandang cacat berat yang mengalami hambatan dalam kegiatan sehari-hari (activity daily living/ADL). Sekitar 67,33% penyandang cacat dewasa tidak mempunyai keterampilan dan pekerjaan. Jenis keterampilan utama penyandang cacat adalah pijat, pertukangan, petani, buruh dan jasa. Jumlah penyandang cacat laki-laki lebih banyak dari perempuan sebesar 57,96%. Jumlah penyandang cacat tertinggi ada di Provinsi Jawa Barat (50,90%) dan terendah ada di Provinsi Gorontalo (1,65%). Dari kelompok umur, usia 18-60 tahun menempati posisi tertinggi. Kecacatan yang paling banyak dialami adalah cacat kaki (21,86%), mental retardasi (15,41%) dan bicara (13,08%).
Salah  satu kasus kecacatan yang sedang gencar dibicarakan masyarakat dunia  pada hampir 10 tahun terakhir ini adalah  autis. Autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi, gejalanya mulai nampak sebelum anak berusia 3 tahun, bahkan pada autistik infantil, gejalanya sudah ada sejak lahir. Dan hingga saat ini masih belum diketahui penyebabnya secara pasti. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik. Sementara ini layanan pendidikan untuk anak autistik di Indonesia lebih cenderung dimasukkan ke pendidikan anak keterbelakangan mental/tunagrahita,walau sebenarnya anak autistik memerlukan pendidikan spesifik.
Jumlah anak penyandang autis makin bertambah di beberapa Negara, seperti di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 – 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalensi autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autisma meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autis. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 – 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.
Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta lebih, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang autis, namun diperkirakan jumlah anak austima dapat mencapai 200 ribu orang. Belum termasuk anak-anak dengan kelainan/kecacatan yang lainnya, seperti : Mental Retardasi, Cerebral Palsy, Down Syndrome, ADD, Tuna Netra, Tuna Rungu, dan kondisi-kondisi yang lain. Apalagi kita tahu bahwa jumlah kelahiran di Indonesia masih relative tinggi, dan faktor-faktor pemicu gangguan tumbuh kembang juga lebih banyak. Maka dapat diperkirakan bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia lebih banyak daripada negara-negara tersebut di atas.
Beberapa  penelitian  yang  dilakukan  pada  siswa  Sekolah  Dasar  dan  Menengah  dari beberapa  Negara  bagian  di  USA,  menunjukkan  sekitar  9  %  dari  seluruh  siswa  tersebut diidentifikasi mengalami hambatan perkembangan belajar. Di  Indonesia kasus  ini  jumlahnya lebih  banyak,  yaitu  sekitar  10  –  15 %  dari  seluruh  siswa SD  dan SMP  (Depdiknas, Badan
Penelitian  dan  Pengembangan,  2003).  Pada  waktu  itu,  hambatan  perkembangan  belajar masih  kurang  dipahami  dan  banyak  diperdebatkan,  karena  dianggap  sebagai  kondisi ketidakmampuan fisik dan lingkungan yang mempengaruhi siswa.  Hambatan  perkembangan  belajar  bukan  suatu  hambatan  tunggal,  tetapi  merupakan kategori umum dari pendidikan khusus yang terdiri dari hambatan dalam beberapa dari tujuh bidang khusus ini, yaitu:
1.  bahasa reseptif (memaknai apa yang didengar)
2.  bahasa ekspresif (bicara)
3.  keterampilan dasar membaca
4.  memahami bacaan
5.  ekspresi tulisan
6.  hitungan matematik
7.  berpikir matematik.
Bentuk  lainnya  dari  hambatan  ini  yang  sering  terjadi  antara  lain  kurangnya  keterampilan sosial  dan  gangguan  emosi  atau  perilaku  seperti  hambatan  pemusatan  perhatian (ADD/Attention  Deficit  Disorder).  Hambatan  perkembangan  belajar  tidak  sama  dengan ketidakmampuan  membaca  atau  disleksia  meskipun  ini  sering  disalah  artikan  seperti  itu. Tetapi apabila kita kaji  lebih jauh, sebenarnya sangat banyak  informasi yang ada berkenaan dengan hambatan perkembangan belajar tersebut, berhubungan dengan kesulitan membaca, dan  banyak  anak-anak  dengan  kesulitan  belajar  yang  kekurangan  utamanya  dalam membaca. Suatu bagian yang penting dari definisi hambatan perkembangan belajar menurut the IDEA (the Individuals with Disabilities Education Act) adalah bukan termasuk atau tidak dapat dihubungkan terutama dengan tunagrahita (Mentally Retarded), gangguan emosi dan perilaku (tunalaras),  perbedaan  budaya,  atau  kondisi  lingkungan  atau  ekonomi  yang  tidak menguntungkan.  Dalam  hal  ini,  konsep  hambatan  perkembangan  belajar  itu  fokus  pada ketidaksesuaian  antara  prestasi  akademik  seorang  anak  dengan  kemampuan  dia  yang kelihatan dan aktivitasnya dalam belajar. Diperjelas oleh hasil penelitian Zigmond (2003: 72), bahwa  “hambatan  ini merupakan  refleksi masalah  belajar  yang  tidak  terduga  dalam  suatu kemampuan anak yang nampak.” Jadi  masalah  yang  berhubungan  dengan  hambatan  perkembangan  belajar  pada umumnya meliputi  validitas  yang  diperkirakan  akan  terjadi,  kesulitan  dalam  identifikasi  dan pembelajaran pada anak hambatan perkembangan belajar, melakukan identifikasi, klasifikasi, pelaksanaan  intervensi  dan  membedakan  jenis-jenis  hambatan  belajar  (seperti:  hambatan membaca, menulis,  dan matematik)  yang  berhubungan  dengan masalah  hambatan  atensi (pemusatan perhatian) dan keterampilan sosial. Dengan kondisi seperti ini, maka implikasinya bagi persiapan guru dan kebijakan sekolah dalam melayani anak-anak tersebut menjadi tidak optimal.

B. KLASIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang memiliki kebutuhan baik permanen maupun temporer untuk mendapatkan penyesuaian pelayanan pendidikan. Kebutuhan permanen kebanyakan diakibatkan oleh kelainan yang disandang, antara lain:
1. Tunanetra
Adalah mereka yang mengalami gangguan daya penglihatan berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, yang membutuhkan penyesuaian pelayanan pendidikan. (6/6 to 6/18 =Normal, 6/18 to 3/60=Low Vision/Limited vision, 3/60 to 1/60=Very limited vision/socially blind, less than 1/60=practically blind)
Field of vision: 10 or less on the best eye, is usually characterized as blindness".
2. Tunarungu
Adalah mereka yang mengalami kehilangan kemampuan pendengaran menyeluruh atau sebagian,
Ada dua kelompok tunarungu yaitu:
a) Kurang dengar, yaitu mereka yang kehilangan pendengaran kurang dari 90 dB.
b) Tuli, yaitu mereka yang kehilangan pendengaran di atas 90 dB.
3. Tunagrahita
Adalah mereka yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental disertai ketidakmampuan untuk belajar dan menyesuaikan diri.
C Tunagrahita Ringan (IQ = 50 - 70)
C1 Tunagrahita Sedang (IQ = 25 - 50)
C2 Tunagrahita Berat (IQ < 25)
4. Tunawicara
Adalah mereka yang mengalami gangguan dalam berbicara diakibatkan oleh kelaianan/kerusakan pada organ bicara.
5. Tunadaksa
Adalah mereka yang memiliki kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, otot, sendi, dan pada sisstem saraf pusat) sehingga membutuhkan penyesuaian layanan Pendidikan
6. Tunalaras
Adalah mereka yang mengalami gangguan emosi dan perilaku sehingga mengalami kesulitan dalam bertingkah laku dan membutuhkan penyesuaian layanan pendidikan.
7. Anak berbakat
Adalah anak yang memiliki kecerdasan dan kemampuan luar biasa dan atau bakat istimewa, (giffted): potensi kecerdasan istimewa (IQ>125) talented: Potensi bakat istimewa (multiple Intelegensys language, Lagico, Mathematic, Visuo Spatial Bodly, Khineshtetic Intrapersonal, Musical, Natural, Spiritual.
8. Tunaganda
Adalah mereka yang memiliki dua atau lebih kelainan, sehingga membutuhkan penyesuaian layanan Pendidikan.
9. Anak Berkesulitan/Hambatan Belajar
Adalah anak yang mengalami berbagai hambatan dalam melakukan pembelajaran seperti membaca, menulis dan berhitung (Hyperactive, ADD/ADHD, Dyslexia/ baca, Dysphxia/ bicara, Dyspraxia/ motorik).
10. Anak Autisme
Adalah anak yang mengalami hambatan dalam proses interaksi sosial, komunikasi, perilaku, dan bahasa.
11. Anak dengan gangguan Konsentrasi dan Perhatian
Adalah anak yang tidak mampu memusatkan perhatian pada objek tertentu
12. Lambat Belajar (IQ 70-90)
13. Korban Penyalahgunaan Narkoba/HIV/AIDS
14. INDIGO (Memiliki Indra Keenam)
15. Dan sebagainya.

C. IDENTIFIKASI ANAK DENGAN HAMBATAN BELAJAR
Identifikasi (pengenalan) dini pada perkembangan anak merupakan suatu proses yang penting untuk memahami potensi dan kebutuhan mereka. Semakin dini proses ini dilakukan, maka upaya pengembangan potensi anak  juga semakin efektif.  Identifikasi dini pada masa  sekolah sangat menentukan perkembangan anak-anak di masa mendatang. Apabila di usia  sekolah  itu  kita  salah  dalam  memahami  dan  memperlakukan  anak,  maka  perkembangan  anak-anak di usia sekolah menjadi terhambat.
Pandangan dan perlakuan yang salah itu antara lain:
1. masa  kanak-kanak  dianggap  sebagai  penembus  masa  kedewasaan,  dimana  semua kebutuhan anak ditentukan secara sepihak oleh orang dewasa
2. sifat-sifat moral  baik  diajarkan,  pola  berpikir  dididik,  dan  kekayaan  budaya  ditanamkan dengan model orang dewasa memahaminya
3. anak harus bekerja sebagaimana orang dewasa bekerja
4. keteraturan internal anak didektekan dari luar atau atas kehendak orang dewasa. Dengan pandangan  dan  perlakuan  yang  salah  terhadap  anak  mengakibatkan  perkembangan anak  diatur  orang  dewasa,  kebebasan  anak  yang  sesuai  dengan  dunianya  hilang, kepatuhan  dan  disiplin  anak  tercipta  karena  otoritas  orang  dewasa,  dan  anak menjadi objek pendidikan dan pengajaran orang dewasa.
Dengan  demikian  semakin  jelas  bahwa  irama  kerja  anak  tidak  sama  dengan  irama  kerja orang dewasa dan kebutuhan  internal pertumbuhan anak menentukan  jenis pekerjaan yang dilakukannya, sedangkan orang dewasa bekerja karena alasan-alasan dari luar.

D. STRATEGI PENANGANAN ANAK DENGAN HAMBATAN BELAJAR
Dengan  permasalahan  tersebut maka  kita  perlu merubah  wacana  dalam memahami dan memberdayakan anak.   Anak pada awal  kehidupannya bagaikan  “malam”  yang  lunak, namun  dalam  bentuk  yang  lain  sama  sekali  sehingga  hanya  bisa  dibentuk  oleh kepribadiannya  sendiri.  Anak  tidak  menyandang  tanda-tanda  milik  orang  dewasa  yang diperkecil,  melainkan  di  dalam  dirinya  tumbuh  kehidupannya  sendiri,  dan  hanya  ia pemiliknya.  Setiap  saat  anak  harus  selalu  tumbuh  karena  pekerjaan  ini merupakan  karya cipta manusia yang terbesar sehingga anak membutuhkan orang dewasa untuk hidup, bukan untuk mengatur  perkembangan  anak  dan menjadikan  anak menjadi  objek  pendidikan  dan pengajaran.
Berdasarkan  berbagai  penelitian  dari  para  ahli  pendidikan  anak,  telah  ditemukan beberapa  keterampilan  dasar  yang  pengembangannya  dianggap  sangat  penting  bagi pendidikan  anak  sekolah,  yaitu  keterampilan  motorik,  sensorimotor,  dan persepsimotor.  Keterampilan  dasar  ini  meliputi:  keterampilan-keterampilan  visual  (pengamatan),  auditif (mendengarkan),  komunikasi  lisan,  membaca,  dan  menulis  permulaan,  matematika  awal, mandiri  secara  sosial  dan  emosional,  pemahaman  posisi  dan  arah,  warna,  tekstur,  dan waktu. Untuk lebih jelasnya, maka keterampilan dasar tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1..  Pengalaman anak  melalui gerakan tubuh dan tangan (sensorimotori)
Penggunaan indera (sensorimotor)  tersebut dimaksudkan untuk mencapai  integrasi sensori  yang  baik.  Sensori  Integrasi  (S  I)  adalah  suatu  proses  neurologis  dalam  perolehan  informasi melalui  pancaindera,  lalu  informasi  ini  diolah  dalam  sistem  syaraf pusat,  dan  informasi  itu  digunakan  untuk  kelancaran  dalam  melaksanakan  aktivitas kehidupan  sehari-hari.  Jadi  sensori  integrasi  merupakan  suatu  proses  optimasi perkembangan  individu  yang  tidak  pernah  berakhir,  karena  semakin  banyak  anak-anak mengerjakan sesuatu dengan sensorinya secara  terpadu, maka mereka akan mencapai kompetensi  dan  peningkatan  integrasi  sensorinya  secara  optimal  sehingga  anak-anak tersebut akan lebih banyak menguasai dan memperoleh pengalaman baru.  Pengalaman  baru  anak-anak  sekolah  biasanya  diperoleh  melalui  proses  belajar yang  berlangsung  secara  alami,  seperti  ketika melakukan  kegiatan  dengan menyentuh dan merasakan,  termasuk  dengan  bergerak  dan menggerakkan  sesuatu  seperti  dalam proses  “belajar  sambil  bekerja”  (Learning  by Doing). Rasa  dari  sentuhan  dan  gerakan motorik dalam proses belajar itu diperoleh melalui tiga sistem  syaraf dasar seperti berikut ini:
a. Sistem taktile, memberikan pada kita dua jenis informasi yaitu: a) Rasa protektif, yang memperingatkan  pada  kita  untuk melindungi  diri  dari  bahaya  yang  secara potensial  tersentuh oleh kita. b) Rasa diskriminatif, yang menjelaskan bahwa kita sedang menyentuh bentuk, ukuran, dan permukaan dari objek yang kita raba atau menyentuh  kita.  Jadi  kita menerima  rasa  taktile melalui  penerimaan  dalam  kulit kita.
b. Sistem Vestibuler, yang memberikan  informasi pada kita tentang dimana kepala kita dalam hubungannya dengan seluruh bagian  tubuh secara utuh, menjelaskan pada  kita  tentang  gerak,  keseimbangan,  dan  kemampuan  kita  dalam menahan gravitasi bumi, serta pengaturan badan dan otak kita secara efektif dalam aktivitas sehari-hari. Jadi kita menerima rasa vestibuler itu pada bagian telinga dalam kita.
c. Sistem  proprioseptif,  menjelaskan  kepada  kita  bahwa  tanpa  menggunakan pengamatan, kita bisa memahami posisi dari bagian tubuh kita. Sistem ini sanga penting untuk perencanaan gerak -- kemampuan untuk menyusun dan melakukan urutan gerakan yang kompleks. Kita menerima rasa proprioseptif melalui otot-otot persendian, dan tulang kita.
Dengan  demikian  dapat  disimpulkan,  di  rumah  dan  di  sekolah,  anak-anak  harus berpartisipasi  aktif  menggunakan  tangannya  dan  seluruh  pengalaman  sensorimotornya setiap hari. Apabila anak pasif -- seperti memperhatikan anak lain yang sedang bermain atau duduk main  game  di  depan  pesawat  TV  --  tidak  akan mendorong  anak-anak  kita menjadi siswa yang memiliki kemampuan dan rasa percaya diri.
2.  Pengalaman anak melalui sensori dan persepsimotor
Sensori  dan  persepsi merupakan  dua  istilah  yang  tidak  bisa  dipisahkan.  Sensori (penginderaan)  merupakan  suatu  proses  melihat,  mendengar,  meraba,  merasa,  dan mencium sesuatu objek atau  informasi yang ada di sekeliling kita, sedangkan persepsi merupakan  sensory  analysis,  yaitu  suatu  proses  pengenalan,  pemaknaan,  dan intepretasi terhadap objek atau informasi yang ada di sekeliling kita yang diterima melalui penginderaan (sensori).
Latihan  sensori  merupakan    suatu  dasar  perkembangan  manusia,  dan  melatih sensori  itu  adalah  suatu  pekerjaan  yang memiliki  arti  yang  penting  dalam  pendidikan. Selama benda, yang oleh manusia tidak diungkapkan dengan menggunakan pancaindera melalui sensorinya dan  tidak dapat dibedakannya, maka berarti  tanggapan sesnsori dan pengalaman realita mereka berkurang. Pada material sensori bukan hanya berguna untuk pengembangan keterampilan dasar akademik, melainkan juga untuk menyadarkan kesan yang  ada,  seperti:  kesan  itu  diingat,  diperkuat,  ditanggapi,  diatur  dan  dibedakan  serta disusun. Dengan demikian, material sensori dapat dijadikan media yang sangat penting untuk  membantu  pengembangan  keterampilan  dasar  akademik  anak-anak.Dengan penggunaan  dan  pengoperasian  material  melalui  cara  menggenggam  material  yang konkrit,  maka  anak  berhasil  mengembangkan  pengalaman  mentalnya  yang  meliputi abstraksi benda dan lingkungan.
Persepsi  pendengaran  merupakan  kemampuan  anak  dalam  mengenal  dan menginterpretasikan  apa  yang  didengar,  meliputi:  kemampuan  membedakan  bunyi, membedakan  tinggi  rendahnya  nada  percakapan,  bunyi  dalam  kata,  menceriterakan kembali  apa  yang  didengar,  dan  sebagainya.  Persepsi  penglihatan  merupakan kemampuan anak dalam mengenal dan menginterpretasikan apa yang dilihat, antara lain: kemampuan mengenal  suatu  obyek  dalam  ruang, membedakan  satu  obyek  dari  yang lainnya,  keterampilan  menyatukan  gambar,  model,  bentuk,  huruf,  dan  kata-kata  yang sama,  mengenal  bentuk-bentuk  geometri,  mengenal  objek  (hewan,  alat  mainan), mengenal  angka,  abjad,  suku  kata,  dan  kata.  Sedangkan  persepsi  taktile  mencakup kemampuan  anak-anak  dalam  mengenal  objek  dengan  perabaan,  membedakan permukaan  kasar  dan  halus,  menelusuri  bentuk  geometri,  dan  persepsi  ini  diperoleh melalui kulit dan jari-jari.
Adapun  persepsi  kinestetik  merupakan  kemampuan  dan  kesadaran  anak  pada posisi,  yakni membedakan bagian  tubuh dan kontraksi otot  yang dirasakan oleh  tubuh. Persepsi  kinestetik  ini  diperoleh  melalui  gerakan  tubuh  dan  kontraksi  otot.  Persepsi penglihatan, pendengaran, taktile dan kinestetik ini penting untuk mendapatkan informasi tentang  objek  atau  pengetahuan  yang  diperoleh  melalui  koordinasi  persepsi  motor, gerakan  tubuh,  dan  hubungan  timbal  balik  di  antara  persepsi  tersebut.
Banyak  tugas-tugas  sekolah  dan  aktivitas  kehidupan  sehari-hari  yang  membutuhkan  kesiapan  dan kematangan  koordinasi  persepsi  sensorimotor  secara  simultan  untuk  menunjang kesiapan  anak  dalam  belajar membaca, menulis,  dan  berhitung/matematika.  Demikian pula sebaliknya, apabila seorang anak mengalami gangguan koordinasi motorik, integrasi sensorimotor,  dan  persepsi,  maka  anak  itu  dapat  diidentifikasi  akan  mengalami hambatan perkembangan belajar.

E. BAGAIMANA MENGEMBANGKAN SENSORI MOTOR ?
Dalam aktifitas fisik, pergerakan merupakan hal yang utama dan melibatkan lima organ pengindraan sensoris yang saling bekerja sama. Ke lima organ tersebut adalah :
1. Melakukan aktivitas fisik seperti olahraga atau bermain baik bersama teman atau individu setiap hari minimal 30 menit.
2. Pengalaman melakukan aktivitas sensori motor akan meningkatkan keterampilan dan kepercayaan dirinya.
3. Kesalahan adalah bagian dari pembelajaran, sehingga ada baiknya tidak terlalu banyak memberi komentar pada kesalahan yang dibuat. Biarkan ia membuat kesalahan sampai mampu melakukan aktivitas dengan benar. Katakan apa yang perlu dilakukan tapi bukan apa yang tidak boleh dilakukan.
4. Libatkan keluarga dalam membantu anak bermain, terutama bila anak mengalami masalah perilaku dan kesulitan belajar, karena biasanya terdapat juga kesulitan bermain dengan teman sebayanya.
5. Jadikan aktivitas fisik menjadi rutinitas sehari-hari. Bermain adalah kegiatan anak-anak, dengan melakukan permainan yang melibatkan sensori motor akan meningkatkan juga kekuatan, ketahanan dan kelenturan. Ada anak yang memerlukan pemanasan seperti aktivitas fisik sebelum mengikuti pelajaran, sehingga ada baiknya orang tua atau guru dapat menyiapkan kegiatan fisik sebelum anak siap mengikuti kegiatan di dalam kelas.
6. Dalam melakukan aktivitas di dalam atau di luar rumah harus bebas dari benda-benda yang menggangu keselamatan maupun konsentrasi selama bermain di tempat tersebut. Sehingga tidak terjadi over stimulasi dan hiperaktif. Sertakan juga musik agar anak dapat senang dan gembira
7. Diperlukan kreatifitas dalam bermain dengan membuat peraturan yang mudah dan sederhana, dapat dimengerti oleh anak.

F. STRATEGI PEMBELAJARAN ANAK DENGAN HAMBATAN BELAJAR
Di  dalam  memberikan  layanan  pendidikan  kepada  anak-anak  yang  mengalami hambatan  perkembangan  belajar,  seorang  guru  tidak  dapat  bekerja  sendiri. Mengingat keterbatasan  pada  setiap  orang.  Dengan  bekerja  sendiri  seorang  guru  tidak  dapat memperoleh spektrum pengetahuan dan keterampilan yang luas dan tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menangani sendiri. Untuk melakukan diagnosis dan evaluasi dengan tepat suatu  kasus  ini  dibutuhkan  pengetahuan  yang  spesifik,  seperti:  Neurologi, Okupasi Terapi,  Pedagogi, Psikologi,  Terapi  bicara,  Fisioterapi  dan  lain-lain.  Pengetahuan  ini  dapat  diperoleh melalui kerjasama dengan para ahli lainnya.   Hambatan perkembangan belajar yang banyak dialami oleh siswa Sekolah Dasar dan Sekolah  Menengah  itu  disebabkan  oleh  faktor  internal  pada  diri  anak  yang  tentu  saja berimplikasi  kepada  kesulitan  belajar  membaca,  menulis,  dan  berhitung.   Sehingga  dalam memecahkan permasalahan belajar anak seperti  ini, kita harus mulai dari kondisi dalam diri (internal)  anak  seperti  persepsi  penglihatan,  pendengaran, taktile  (perabaan),  dan motorik-kinestetik  (gerakan  otot  dan  tulang),  yang  merupakan  akar  dan  dasar  dari  munculnya kesulitan  tersebut,  bukan  diawali  dari  produk  belajarnya  yang  berupa  kesulitan  akademis (membaca, menulis, atau matematika).  Misal dalam kesulitan menulis, ada dua kemampuan dasar yang diperlukan anak-anak sekolah  untuk mengembangkan  keterampilan menulisnya,  yaitu  kemampuan  keterampilan tangan dan kemampuan intelektual.
Kemampuan keterampilan tangan, seperti: kemampuan menggerakkan  pergelangan  tangan  secara  fleksibel,  jari-jari menulis  harus  dapat memgang pinsil  dengan  benar,  gerakan  mencoret  harus  dapat  membuat  suatu  bentuk  dalam  satu bidang, sehingga dapat memperlancar gerakan menulis, dan anak harus dapat menggambar sendiri  suatu  bentuk  sampai  kemapuan  motorik  dan  penginderaannya  berkembang  agar mereka mampu membedakan berbagai bentuk.  
Sedangkan kemampuan  intelektual meliputi: berpikir  logis, misalnya:  ketepatan  artikulasi  dalam  bicara,  perbendaharaan  kata  cukup  dan dapat  ditangkap  dalam pikirannya, mengenal  simbol-simbol  huruf  dan  lafalnya  yang  sesuai, dan kemampuan menganalisa lafal huruf dalam kata, menyatukan kembali dengan benar lafal-lafal huruf tadi menjadi kata (sintesa).
Adapun  kegiatan  yang  perlu  diajarkan mencakup:  kegiatan  sehari-hari  yang menuntut keterampilan  koordinasi  motorik  dan  kontrol  gerakan  otot  yang  teratur  dan  terarah,  serta menggerakkan pergelangan  tangan dengan  lentur dan  lancar serta melatih kepekaan ujung-ujung jari menulis. Di samping itu juga perlu ditunjang dengan kegiatan tingkat lanjut, seperti: menelusuri bentuk-bentuk geometri dengan menggunakan pinsil dan mengarsir bentuk yang sudah  tergambar, mengucapkan  lafal-lafal huruf, menelusuri huruf-huruf dari kertas ampelas, menyusun  potongan-potongan  huruf  menjadi  kata,  dan  menuliskan  kata  yang  dibentuknya serta membacakannya untuk orang lain.
Kemampuan  dasar  lain  yang  diperlukan  untuk  pengembangan  kemampuan  dasar akademik pada siswa SD dan SMP adalah kemampuan sensorimotor  (penginderaan). Pada tahap  awal  yang  perlu  diajarkan  adalah:  kemampuan  membedakan  macam-macam  bunyi, kepekaan  membedakan  macam-macam  bunyi  dan  irama,  kepekaan  terhadap  bunyi-bunyi pada gerakan benda atau manusia, ketajamanan pengamatan dalam membedakan berbagai ukuran,  kemampuan  membedakan  ukuran  pada  bentuk  berdimensi  tiga,  kemampuan membedakan macam-macam bentuk geometri bidang datar, dan kemampuan membedakan bentuk-bentuk  dan  lafal-lafal  huruf  dari  ampelas.  Jika  kemampuan  dasar  tersebut  telah dikuasai, maka bisa dilanjutkan pada pengembangan kemampuan membaca kata yang  tidak mengandung  sisipan  dan  akhiran, membaca  nama-nama  benda  yang  telah  dikenal  dengan menyajikan bendanya dalam ukuran kecil  (miniatur), dan membaca nama-nama benda yang ada di sekitarnya dari kata yang telah ditulis pada sepotong kertas, serta menulis huruf besar yang disambung dengan huruf kecil juga bisa mulai diperkenalkan.  Setelah kemampuan tersebut dikuasai, bisa dilanjutkan membaca kata atau kalimat yang mengandung  sisipan dan akhiran,  yang meliputi: membaca klasifikasi dari  kartu bergambar, membaca kalimat  tugas yang ditulis pada sepotong kertas, dan membaca buku bacaan kecil yang memuat gambar dan kalimat-kalimat pendek yang sesuai. Dengan melalui penguasaan kemampuan  dasar  membaca  itu,  maka  kemampuan  anak-anak  bisa  ditingkatkan  kepada kemampuan membaca definisi suatu benda dengan menggunakan kartu bergambar dan kartu kata; serta menganalisis kalimat untuk mencapai pengertian membaca lanjut (total).

oleh:  HANDRI WARSONO, AMd.OT. S.Pd.

DAFTAR PUSTAKA :
Aryanti, Lestaria. 2009. Perkembangan Sensori Motor Dalam Proses Belajar. www.kesulitanbelajar.org

Hidayat. 2009. Workshop "Pengenalan & Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) & Strategi Pembelajarannya“ Balikpapan;  Tempat Terapi Anak HARAPAN KU.

http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=1013.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar